Selasa, 28 Agustus 2012

Sedikit Cerita Dari Sebrang Sana : Bandung Zine Fest 14 juli 2012


Sebelumnya maaf jika ini terlambat posting, karena memang saya tak memiliki akses internet pribadi untuk bisa posting kapan saja. Enjoy..!

Sempat tak lagi diharapkan karena konfirmasi dari pihak penyelenggara sempat molor dan jurnal dwi-bulanan yang saya garap bersama kawan pun terlanjur tersebar, kali ini peyebarannya pun berbeda tak lagi sporadis seperti lima edisi sebelumnya, kali ini beberapa distro yang dianggap masih berada pada jalurnya menjadi target sasaran propaganda berupa rangkaian kata-kata yang tersusun bergambar dan dikemas menjadi sepuluh halaman yang memuat tiga bahasan. Memang, kali ini butuh tenaga ekstra untuk merumuskan kedalam paket edisi ke enam dari Paper-Zine, dari mulai bertemu narasumber untuk menghatamkan jawaban atas apa yang dibahas di edisi ke enam, hingga evaluasi berkedok diskusi setelah satu tahun terakhir umur jurnal propaganda fotokopian mengalami kebimbangan konsep.

Namun tenaga ekstra kami tak lantas pergi begitu saja setelah mendapat kabar bahwa perayaan para zinemaker se-bandung raya bahkan ada pula yang berpartisipasi dari luar kota bahkan luar pulau, menakjubkan acara yang baru pertama diselenggarakan kawan-kawan pecinta tinta Xerox mendapat respon yang sangat baik. Tepat pada tanggal 14 juli 2012 kemarin pukul 13.00 WIB Gedung Indonesia Menggugat menjadi saksi sejarah bahwa kami (para zinemaker) eksis dan masih ada. Meja yang berjajar di kiri-kanan pintu masuk diisi para contributor melapak seluruh karya yang di buat dari zine fisik dan bentuk PDF hingga pernak-pernik yang dipajang, dibagikan gratis atau sekedar donasi untuk ganti biaya fotokopi. Ruang eksibisi sampul zine dari pertengahan 90-an hingga hari ini terpampang megah sebelah kanan juga perpustakaan zine di ruangan sebelah kiri yang disusun rapih menurut genre-nya dari fanzine, newsletter, hingga media alternative lain yang tak kalian temukan di toko tabloid manapun.

Tak hanya pameran zinemaker yang diagendakan dalam acara ini, ada pula diskusi dari; lagi-lagi seorang MC yang dianggap kolot juga ikut andil dalam sejarah zine di bandung, siapa lagi kalo bukan Herry Sutresna A.K.A Ucok MV,  juga pencetak sejarah zinemaker yang unik dengan tampilan gunting-tempel-fotokopi Ika Vantianti. “Melakukan apapun, atau tidak melakukan apapun” yang diucapkan MV ternyata lebih sahih dijadikan pegangan kami sebagai pemberdaya tukang fotokopi. Jika kalian berpikir bahwa aktivitas seperti ini adalah aktifitas yang tak penting, apa kalian lebih baik dari kami yang hanya menghabiskan waktunya menjual harinya dengan menonton acara favorit kemudia dikomen melalui 140karakter? Pada sesi terkahir suguhan film dokomenter dari kawan-kawan Anak Muda Production adalah pegas bagi energy kami karena dengan segala keterbatasan dan embel-embel prosedur ina-inu yang dianggap menyusahkan bukanlah suatu ganjalan besar tapi kerikil yang mudah untuk dilindas dengan semangat juga karya yang dibuat. Karna bagi saya pribadi karya terbesar yang maha adalah semangat untuk memperjuangkan karya tersebut apapun halangannya.
Lelah memang seharian menjadi partisipan sebuah pagelaran ciamik hari itu. Namun ereksi yang sangat puas telah membayar semua rasa kantuk semalam yang mengigil menyenggamakan kertas ukuran A4 kepada mesin fotokopi, hari itu pula kami ketahui bahwa beberapa zinemaker melakukan hal yang sama di tempat yang sama. Dan pulang membawa beribu rasa penasaran pada tumpukan zine-zine yang kami bawa, penasaran terhadap pesan apa yang redaktur kemas di setiap disinya, karna saya yakin zine apapun yang mereka buat jauh lebih berharga dari majalah Playboy yang Habbieb Rizieq simpan tempo hari.

Singgahi juga halaman kawan-kawan di http://www.bandungzinefest.blogspot.com/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar