Sabtu, 28 November 2015

Semangkuk Cerita, Secangkir Luka

Secangkir luka, sesendok perih.
Dalam takaran yang berlebih, melarut dan memberikan warna abu.
Kamu, diantara seribu daun yang jatuh dan mengering melayang menari melantunkan nada sendiri.
Disana bukan hanya aku yang berlari saat hujan dan berbelit debu menghempas muka.

Suatu malam, gaduh diantara reruntuhan dan puing bercengkrama menggurat lagi cerita.
Disana tak hanya ada kau dan aku, semangkuk kata tersaji diantara gelas gelas tanah liat.
Bergenggam tangan dan mencari nada untuk menari.
Menari diantara kayu keropos dan besi karat.
Meringkih dan berbisik diantara senyap ilalang.

Jangan ajak aku terbang malam ini, sayapmu belum mampu untuk membawaku.
Ajaklah berlari mengitari pematang sawah padi menguning, antara hama dan pestisida.

Bila harapan yang ditanam sejak malam berlabuh tak melulu datang. Buang perlahan dan biarkan luntur bersama air hujan.
Bila esok harus menyerah dengan keadaan maka jangan biarkan apapun membekas melukai wajahmu.
Selamat jalan, kamu dan semangkuk cerita telah mengobati luka.